Berkata Ibnu Hibban – رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالَىٰ – :
»| Maka yang wajib bagi orang yang berakal apabila saudaranya meminta maaf kepadanya atas kejahatannya di masa lalu, atau atas kekurangannya yang telah lalu, untuk menerima permohonan maafnya dan menjadikannya seperti orang yang tidak memiliki dosa; karena orang yang telah meminta maaf namun tidak diterima maka aku khawatir dia (yang menolak memaafkan, pent) tidak akan dapat melewati telaga nabi shalallahu alaihi wa sallam. Dan barangsiapa yang telah berbuat kekurangan pada suatu sebab dari sebab-sebab yang ada maka wajib atasnya meminta maaf dari kekurangannya kepada saudaranya. Dan Muhammad bin Abdillah bin Zanji Al-Baghdadi telah menyampaikan kepadaku dalam bait syairnya: “Apabila teman telah meminta maaf kepadamu di suatu hari atas kekurangannya maka akan memberikan maaf saudaranya yang merdeka. Maka lindungilah dia dari sikap kasarmu dan beri maaf dia karena pemaaf adalah karakter setiap orang yang merdeka.” |«
Rawdhah Al-Uqala (1/183).
————
*قال ابن حبان رحمه الله تعالى:* “فالواجب على العاقل إذا اعتذر إليه أخوه لجرم مضى ، أو لتقصير سبق ، أن يقبل عذره ويجعله كمن لم يذنب ؛ لأن من تنصل إليه فلم يقبل أخاف أن لا يرد الحوض على المصطفى صلى الله عليه وسلم . ومن فرط منه تقصير في سبب من الأسباب يجب عليه الاعتذار في تقصيره إلى أخيه . ولقد أنشدني محمد بن عبد الله بن زنجي البغدادي: إذا اعتذر الصديق إليك يوما من التقصير عذر أخ مقر فصنه عن جفائك واعف عنه فإن الصفح شيمة كل حر “.
روضةالعقلاء ونزهة الفضلاء (1/183) ]
#adab_akhlakt.me/butiranfaedah/2534
Artikel lainnya:t.me/butiranfaedah
Catatan
Semoga tulisan ini menjadi sebab bertambahnya ilmu, lurusnya aqidah, dan kuatnya ittiba’ kepada sunnah Nabi ﷺ.