Dari Fadhalah bin ‘Ubaid seorang sahabat Rasulullah ﷺ berkata; Rasulullah ﷺ mendengar seorang laki-laki berdoa dalam shalatnya dan tidak mengagungkan Allah ta’ala serta tidak bershalawat kepada Nabi ﷺ, kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, “Orang ini telah terburu-buru.” Kemudian beliau memanggilnya dan berkata kepadanya,:
« إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَمْجِيدِ رَبِّهِ جَلَّ وَعَزَّ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يَدْعُو بَعْدُ بِمَا شَاءَ »
“Apabila salah seorang diantara kalian melakukan shalat maka hendaknya memulai dengan mengagungkan Tuhannya yang Maha agung dan Perkasa, serta dengan memuji kepada-Nya, kemudian bershalawat kepada Nabi ﷺ kemudian berdoa setelah itu dengan apa yang ia kehendaki.” [ Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi dalam Sunan keduanya dan dishahihkan oleh Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. (1481) ]
Ucapan: “seorang lelaki berdoa dalam shalatnya” yaitu di akhir shalatnya atau setelah selesai shalat.
Ucapan: “tidak mengagungkan Allah” berasal dari kata: tamjid, yaitu pengagungan. [Syarah Abi Dawud, karya Al-Aini (5/396)]
Ucapan: “orang ini telah terburu-buru” dengan dikasrah huruf jim nya dan boleh juga difathah dan ditasydid yaitu ketika meninggalkan urutan dalam berdoa dan menyampaikan permohonan sebelum bertawasul (dengan Asmaul Husna, pent). Yaitu: tergesa-gesa.
Berkata imam Az-Zahidi di dalam tafsirnya: “perbedaan antara bergegas dengan terburu-buru ialah bahwa bergegas digunakan pada hal yang baik yaitu pada umumnya (demikian) dan dalam kejelekan yaitu kadang kala, sedangkan terburu-buru tidak digunakan kecuali pada hal yang jelek, dan ada yang mengatakan: bahwa bergegas artinya segera pada waktunya sedangkan terburu-buru artinya segera tidak pada waktunya.
Ucapan: “apabila salah satu dari kalian shalat” yaitu apabila shalat dan telah selesai kemudian duduk untuk berdoa atau apabila dia masih dalam keadaan shalat kemudian duduk untuk tasyahhud maka hendaklah dia memulai dengan mengagungkan Tuhannya dan memuji-Nya dengan ucapan: at-tahiyyat.. hingga akhir. Selesai. [Aunul Ma’bud (4/248)]
Berkata As-Syaikh Abdul Karim Al-Khadhir hafizhahullah:
“Dan berdoa dalam shalat lebih utama; karena itulah yang menjadi sebab disebutkannya hadits, dan dalam sababul wurud (sebab disebutkannya hadits) dia berdoa dalam shalatnya, sehingga apabila dia shalat yakni berdoa, dan yang dimaksud adalah doa dalam shalat sebagaimana tertulis pada sababul wurud dan masuknya sebuah sebab ke dalam nash (teks hadits) – berdasarkan apa yang dikatakan para ulama – bersifat qath’i (yakni memberikan faedah keyakinan atau ilmu, pent), betul ia merupakan satu dari individu-individu yang bersifat umum yang tidak hanya terbatas padanya saja, akan tetapi masuknya sebab ke dalam nash adalah bersifat qath’i, dan ibrah (sebuah pelajaran) bisa didapat dengan keumuman lafazh bukan dengan kekhususan sebab. Selesai [Al-Muharrar Fil Hadits (19/16)]
Ini mencakup shalat wajib, dan shalat adalah ucapan dan amalan yang dibuka dengan takbir dan ditutup dengan salam, demikian halnya doa mencakup makna syar’i dan makna bahasa. [Syarah Sunan Abi Dawud, As-Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhahullah].
Ucapan: “maka hendaklah memulai dengan mengagungkan Tuhannya dan memuji-Nya” dari segala pujian yang bagus dan bersyukur kepada-Nya atas segala pemberian yang melimpah.
Ucapan: “kemudian mengucapkan shalawat kepada nabi ﷺ” karena sesungguhnya ia merupakan perantara dari sebuah ikatan kecintaan dan wasilah kepada ibadah dan pengetahuan.
Ucapan: “kemudian berdoa setelah itu” maksudnya setelah apa yang telah disebutkan.
Ucapan: “dengan apa yang dia mau” dari urusan agama atau dunia dari hal-hal yang dibolehkan untuk diminta. [Aunul Ma’bud (4/248-249)].
FAEDAH HADITS:
✓ Dan di dalam hadits tersebut dan hadits Ibnu Mas’ud: dianjurkan mendahulukan pujian kepada Allah di atas shalawat kepada nabi ﷺ, dan ini sesuai dengan doa setelah tasyahhud dan shalawat kepada nabi ﷺ, karena tasyahhud di dalamnya mengandung pujian kepada Allah Azza wa Jalla, maka tidak perlu mengulang pujian. [Lihat: Fathul Bari Syarah Shahih Bukhari, karya Ibnu Rajab (7/350-351)]
✓ tamjid (pengagungan terhadap Allah) merupakan tingkatan ketiga dibandingkan dengan tahmid (pujian) sebagai tingkatan ketiga, bagaimana itu?
« قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَينِ، فَإِذَا قَالَ:{ الْحَمْدُ لِلَّهِ } قَالَ اللّٰهُ : حَمِدَنِي عَبْدِي »
“Aku membagi shalat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Maka jika ia membaca; ‘ALHAMDULILLAH, ‘ Allah berfirman: ‘hamba-Ku telah memuji-Ku.” Yaitu Alhamdulillahi rabbil aalamiin.
«فَإِذَا قَالَ: { الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ } قَالَ: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي, فَإِذَا قَالَ: { مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ } قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي»
“Lalu jika ia membaca; ‘ARRAHMAANIRRAHIM, ‘ Allah berfirman: ‘hamba-Ku telah memuliakan-Ku.’ Dan jika ia membaca; ‘MAALIKI YAUMIDDIIN, ‘ Allah berfirman: ‘hamba-Ku telah mengagungkan-Ku'”
Maka inilah tingkatan ketiga, bukanlah tahmid maknanya adalah tamjid, dan bukanlah tahmid juga maknanya sanjungan, maka pujian bukan sanjungan, dan sanjungan bukan pengagungan dengan bukti hadits Abu Hurairah dalam kitab Shahih.
« إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَمْجِيدِ رَبِّهِ جَلَّ وَعَزَّ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ »
“Apabila salah seorang diantara kalian melakukan shalat maka hendaknya memulai dengan mengagungkan Tuhannya yang Maha agung dan Perkasa, serta dengan memuji kepada-Nya”.
Pada sebagian tulisan: “dengan memuji dan menyanjung” maka ini menunjukkan bahwa sanjungan bukanlah pujian dan bukan pula pengagungan, dan petunjuk pada hadits Abu Hurairah tampak jelas kepada yang demikian, sekalipun kebanyakan para pen-syarah dan kebanyakan ahli tafsir menafsirkan pujian adalah sanjungan terhadap yang dipuji dengan sifat-sifatnya yang dipilih lagi bagus dan terpilih, yang dimaksud bahwa sanjungan adalah makna lainnya, maka pujian sebagaimana disebutkan Ibnul Qayyim di dalam Al-Wabil As-Shayyib: “menyebutkan sifat-sifat terpuji” yakni Rabb yang maha mulia lagi maha tinggi dipuji dengannya dibarengi dengan kecintaan kepada-Nya dan pengagungan terhadap-Nya, dan sanjungan: adalah pengulangan penyebutan sifat-sifat terpuji” pujian adalah pengulangan penyebutan sifat-sifat terpuji, sebagaimana hal itu juga dibenarkan Ibnul Qayyim dalam Al-Wabil As-Shayyib. Selesai. [Lihat: Syarah Al-Muharrar Fil Hadits (19/16)].
✓ diantara sebab-sebab terkabulnya doa adalah hatinya mempersiapkan pujian kepada Allah dan sanjungan kepada-Nya, shalawat kepada rasul-Nya ﷺ, dan oleh karena ini shalat jenazah datang dalam bentuk mengandung pujian (yakni Al-Fatihah, pent), shalawat kepada nabi ﷺ, kemudian doa; karena membaca Al-Fatihah merupakan pujian dan sanjungan kepada Allah Azza wa Jalla, dan shalawat ibrahimiyyah di dalamnya mengandung shalawat kepada nabi ﷺ, kemudian setelah itu dipanjatkan doa bagi mayit dan permohonan untuknya ampunan dan rahmat serta syafaat baginya.
Kemudian juga yang terkait dengan shalat bahwa tasyahhud lebih dulu dari salam, dan ia mengandung pujian kepada Allah dan sanjungan kepada-Nya, maka ucapan:
« التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ »
“Segala penghormatan hanya milik Allah, juga segala pengagungan (shalat-shalat) dan kebaikan.”
Merupakan pujian dan sanjungan kepada Allah Azza wa Jalla, dan setelahnya:
« أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ »
“Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”
Kemudian setelah itu shalawat kepada nabi ﷺ, kemudian setelah itu berdoa, maka di dalamnya ada persiapan bagi doa. [Lihat: Syarah Sunan Abi Dawud, karya As-Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhahullah (7/178).
✓ dan dengan hadits ini imam Syafi’i berdalil bahwa shalawat kepada nabi ﷺ di dalam shalat adalah wajib, dan itu pendapat imam Ahmad sehingga jika ditinggalkan maka tidak sah shalat. Dan menurut Abu Hanifah, Malik dan jumhur ulama: ia adalah sunnah maka tidak akan merusak shalat karena meninggalkannya, dan telah lewat pembicaraan tentang ini di dalam babnya dengan mencukupi. Dan berdalilkan dengan hadits ini atas wajibnya shalawat tidaklah benar berdasarkan apa yang tidak samar lagi. Selesai [Lihat: Syarah Sunan Abi Dawud, karya Al-Aini (5/397)]
Berkata Al-Allamah Al-Amir Al-Yamani dalam Subulus Salam: “hadits tersebut merupakan dalil atas wajibnya apa yang telah disebutkan dari pujian, sanjungan dan shalawat kepada nabi ﷺ, dan berdoa dengan apa yang dia mau, dan itu mencocoki secara makna kepada hadits Ibnu Mas’ud dan lainnya; karena hadits-hadits tasyahhud mengandung apa yang telah disebutkan dari pujian dan sanjungan, dan itu dibangun berdasarkan apa yang dikandung hadits ini. Dan akan datang pembicaraan tentang shalawat kepada nabi ﷺ, dan ini apabila telah benar bahwa doa ini yang didengar nabi ﷺ dari orang tersebut terjadi ketika duduk tasyahhud, dan jika bukan maka tidak ada di dalam hadits ini dalil yang menunjukkan bahwa hal itu terjadi ketika duduk tasyahhud, kecuali yang telah disebutkan penulis (yaitu Al-Hafizh Ibnu Hajar) baginya di sini menunjukkan bahwa itu terjadi pada duduk tasyahhud, dan sepertinya beliau mengetahui dari konteksnya.” Selesai.
Berkata Al-Hafizh (Ibnu Hajar): “Ibnu Abdil Barr telah mencela sisi pengambilan dalil dengan hadits Fadhalah untuk menyatakan wajib dengan mengatakan, ‘kalau sekiranya demikian pastinya nabi memerintahkan orang yang shalat tersebut untuk mengulang (shalatnya) sebagaimana beliau perintahkan orang yang buruk shalatnya’, dan Ibnu Hazem juga mengisyaratkan demikian. Dan dijawab dengan beberapa kemungkinan bahwa kewajibannya ketika ia telah selesai (dari shalatnya), dan cukuplah berpegang dengan perintah dalam menguatkan pendapat yang wajib.” Selesai [Lihat: Murqah Al-Mafatih (3/281)]
✓ dan di dalam hadits ini ada satu adab dari adab-adab berdoa yaitu tidak boleh tergesa-gesa.
✓ dan diantara sejumlah adab dalam berdoa adalah mencari waktu-waktu yang utama seperti ketika sujud, tasyahhud akhir, dan ketika adzan, dan diantara (adab-adab) nya adalah mendahulukan dengan wudhu dan shalat, menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, mendahulukan taubat dan pengakuan berbuat dosa, ikhlas, membukanya dengan pujian dan sanjungan serta shalawat kepada nabi ﷺ, dan meminta dengan menyebut nama-nama Allah yang baik.
✓ dan diantara syarat-syarat diterimanya doa adalah tidak berdoa dengan doa yang mengandung dosa, dan tidak memutuskan hubungan silaturahmi, dan tidak menganggap sial dari sebuah doa dengan mengatakan: aku telah berdoa dan berdoa namun aku belum juga melihatnya terkabulkan untukku. [Lihat: Rasysyul Bard Syarah Al-Adabil Mufrad, Bab: 284 dan 285 (1/365), dengan sedikit perubahan dan tambahan.
Disarikan oleh yang butuh kepada ampunan Rabbnya: Abu Abduh Al-Indunisiy.
Selasa pagi, 17 Dzulhijjah 1442 H.
—————-
من آداب الدعاء
عَنٍ فَضَالَةَ بْنَ عُبَيْدٍ صَاحِبِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: سَمِعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَدْعُو فِي صَلَاتِهِ لَمْ يُمَجِّدْ اللَّهَ تَعَالَى وَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « عَجِلَ هَذَا » ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ: « إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَمْجِيدِ رَبِّهِ جَلَّ وَعَزَّ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يَدْعُو بَعْدُ بِمَا شَاءَ » أخرجه أبو داود والترمذي في سننهما وصححه الألباني في صحيح سنن أبي داود برقم: (١٤٨١).
✓ قوله: (رَجُلًا يَدْعُو فِي صَلَاتِهِ) أَيْ فِي آخِرِ صَلَاتِهِ أَوْ بَعْدَهَا.
✓ قوله: ” لم يُمجّد الله ” من التمجيد , وهو التعظيم. (شرح أبي داود للعيني (٣٩٦/٥))
✓ قوله: (عَجِلَ هَذَا) بِكَسْرِ الْجِيمِ وَيَجُوزُ الْفَتْحُ وَالتَّشْدِيدُ أَيْ حِينَ تَرْكَ التَّرْتِيبَ فِي الدُّعَاءِ وَعَرَضَ السُّؤَالَ قَبْلَ الْوَسِيلَةِ. أي: استعجل.
قَالَ الْإِمَامُ الزَّاهِدِي فِي تَفْسِيرِهِ: الْفَرْقُ بَيْنَ الْمُسَارَعَةِ وَالْعَجَلَةِ أَنَّ الْمُسَارَعَةَ تُطْلَقُ فِي الْخَيْرِ أي غالبا وفي الشرأي أَحْيَانًا وَالْعَجَلَةُ لَا تُطْلَقُ إِلَّا فِي الشَّرِّ وَقِيلَ الْمُسَارَعَةُ الْمُبَادَرَةُ فِي وَقْتِهِ وَالْعَجَلَةُ الْمُبَادَرَةُ فِي غَيْرِ وَقْتِهِ.
✓ قوله: (إذا صلى أحدكم) أَيْ إذا صَلَّى وَفَرَغَ فَقَعَدَ لِلدُّعَاءِ أَوْ إِذَا كَانَ مصليا فقعد للتشهد فليبدأ بتمجيد رَبِّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ بِقَوْلِهِ التَّحِيَّاتُ إِلَخْ. اه (عون المعبود (٢٤٨/٤)).
قال الشيخ عبد الكريم الخضير حفظه الله: والدعاء في الصلاة من باب أولى؛ لأنه هو سبب الورود، في سبب الورود يدعو في صلاته، فإذا صلى يعني دعا، والمراد به الدعاء في الصلاة كما نص عليه في سبب الورود ودخول السبب في النص -على ما يقول أهل العلم- قطعي، نعم هو فرد من أفراد العام لا يقصر عليه، لكن دخوله في النص قطعي، والعبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب. اه (المحرر في الحديث (١٦/١٩)).
هذا يشمل الصلاة المفروضة، والصلاة هي أقوال وأعمال مفتتحة بالتكبير ومختتمة بالتسليم، وكذلك الدعاء يشمل المعنى الشرعي والمعنى اللغوي. (شرح سنن أبي داود للعباد)
✓ قوله: (فليبدأ بِتَمْجِيدِ رَبِّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ) مِنْ كُلِّ ثَنَاءٍ جَمِيلٍ وَيَشْكُرُهُ عَلَى كُلِّ عَطَاءٍ جَزِيلٍ.
✓ قوله: (ثُمَّ يصلي على النَّبِيِّ صلى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ) فَإِنَّهُ وَاسِطَةُ عقد المحبة ووسلية الْعِبَادَةِ وَالْمَعْرِفَةِ.
✓ قوله : (ثُمَّ يدعو بعد) أي بعد ما ذَكَرَ. ✓ قوله: (بِمَا شَاءَ) مِنْ دِينٍ أَوْ دُنْيَا مما يجوز طلبه. (عون المعبود (٢٤٨/٤-٢٤٩)
: ما يستفاد من الحديث
✓ وفي هذا الحديث وحديث ابن مسعودٍ: استحباب تقديم الثناء على الله على الصلاة على نبيه – صلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، وهذا قد يصدق بالدعاء بعد التشهد والصلاة على النبي – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، لأن التشهد فيه ثناء على الله عز وجل، فلا يحتاج إلى إعادة الثناء.
انظر : فتح الباري في شرح صحيح البخاري لابن رجب (٣٥٠/٧-٣٥١)
✓ التمجيد مرتبة ثالثة بالنسبة للتحميد مرتبة ثالثة، كيف؟ ((قسمت الصلاة بيني وبين عبدي نصفين، فإذا قال: الحمد لله قال الله: حمدني عبدي)) الحمد لله رب العالمين ((فإذا قال: الرحمن الرحيم قال: أثنى علي عبدي، فإذا قال: مالك يوم الدين قال: مجدني عبدي))
فهذه مرتبة ثالثة ليس التحميد معناه التمجيد، وليس التحميد أيضاً معناه الثناء، فالحمد غير الثناء، والثناء غير التمجيد بدلالة حديث أبي هريرة في الصحيح. ((إذا صلى أحدكم فليبدأ بتمجيد ربه -جل وعز- والثناء عليه)) في بعض النسخ: ((بالتحميد والثناء)) فدل على أن الثناء غير التحميد وغير التمجيد، ودلالة حديث أبي هريرة ظاهرة على هذا، وإن كان أكثر الشراح وأكثر المفسرين يفسرون الحمد بأنه الثناء على المحمود بصفاته الاختيارية الجميلة الاختيارية، المقصود أن الثناء غيره، فالتحميد كما قال ابن القيم في الوابل الصيب: “ذكر المحامد” يعني التي يحمد بها الرب -جل وعلا- “مع حبه وتعظيمه، والثناء: هو تكرار المحامد” الثناء تكرار المحامد، كما قرر ذلك أيضاً ابن القيم في الوابل الصيب. اه
انظر : شرح المحرر في الحديث (١٦/١٩).
✓ من أسباب قبول الدعاء أن يمهد قبله بحمد الله والثناء عليه، والصلاة على رسوله صلى الله عليه وسلم، ولهذا جاءت صلاة الجنازة مشتملة على الحمد، وعلى الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم، ثم الدعاء؛ لأن قراءة الفاتحة حمد وثناء على الله عز وجل، والصلوات الإبراهيمية فيها صلاة على النبي صلى الله عليه وسلم، ثم بعد ذلك يكون الدعاء للميت والسؤال له بالمغفرة والرحمة والشفاعة له.
ثم أيضاً فيما يتعلق بالصلاة أن التشهد يسبق السلام، وهو مشتمل على حمد الله والثناء عليه، فقوله: (التحيات لله والصلوات والطيبات) حمد وثناء على الله عز وجل، وبعدها: (أشهد أن لا إله إلا الله، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله) ثم بعد ذلك الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم، ثم بعد ذلك الدعاء، ففيه تمهيد للدعاء. انظر : شرح سنن أبي داود للعباد (١٧٨/٧).
✓ وبهذا الحديث استدل الشافعي أن الصلاة على النبي- عليه السلام- في الصلاة فرضٌ , وهو قول أحمد حتى لو تركت لم تصح الصلاة. وعند أبي حنيفة، ومالك، والجماهير: هي سُنة فلا تفسد الصلاة بتركها، وقد مر الكلام في هذا الباب مستوفًى. والاستدلال بهذا الحديث على الفرضية غير صحيح على ما لا يخفى. اه انظر : شرح أبي داود للعيني (٣٩٧/٥)
قال العلامة الأمير اليماني في السبل: الحديث دليل على وجوب ما ذكر من التحميد، والثناء، والصلاة عليه – صلى الله عليه وسلم -، والدعاء بما شاء، وهو موافق في المعنى لحديث ابن مسعود وغيره؛ لأن أحاديث التشهد تتضمن ما ذكر من الحمد والثناء، وهي مبنية لما أجمله هذا. ويأتي الكلام في الصلاة عليه – صلى الله عليه وسلم -، وهذا إذا ثبت أن هذا الدعاء الذي سمعه النبي – صلى الله عليه وسلم – من ذلك الرجل كان في قعدة التشهد، وإلا فليس في هذا الحديث دليل على أنه كان ذلك حال قعدة التشهد، إلا أن ذكر المصنف. (أي الحافظ ابن حجر) له هنا يدل على أنه كان في قعود التشهد، وكأنه عرف من سياقه- انتهى.
قال الحافظ: قد طعن ابن عبد البر في الاستدلال بحديث فضالة للوجوب فقال: لو كان كذلك لأمر المصلي بالإعادة كما أمر المسيء صلاته، وكذا أشار إليه ابن حزم. وأجيب باحتمال أن يكون الوجوب عند فراغه، ويكفي التمسك بالأمر في دعوى الوجوب-انتهى. انظر : مرقاة المفاتيح (٢٨١/٣)
✓ في هذا الحديث أدب من آداب الدعاء [وهو ألا يعجل].
✓ ومن جملة جملة آداب الدعاء تحري الأوقات الفاضلة كالسجود [والتشهد الأخير]، وعند الأذان، ومنها تقديم الوضوء والصلاة، واستقبال القبلة، ورفع اليدين، وتقديم التوبة والإعتراف بالذنب، والإخلاص، وافتتاحه بالحمد والثناء والصلاة على النبي ﷺ والسؤال بالأسماء الحسنى.
✓ ومن جملة شروط قبول الدعاء ألا يدعو بإثم وقطيعة رحم، وألا يسأم من الدعاء قائلا: قد دعوتُ ودعوتُ ولم أره يستجاب لي. انظر : رش البرد شرح الأدب المفرد باب: ٢٨٤,٢٨٥ (١/٣٦٥). بتصرف يسير وزيادة.
انتقاه الفقير إلى عفو ربه: أبو عبده الإندونيسي صباح يوم الثلاثاء، ١٧ ذو الحجة ١٤٤٢ ه.
#adab_akhlakt.me/butiranfaedah/3703
Artikel lainnya:t.me/butiranfaedah
Catatan
Semoga tulisan ini menjadi sebab bertambahnya ilmu, lurusnya aqidah, dan kuatnya ittiba’ kepada sunnah Nabi ﷺ.